“Kuala Lumpur, ibukota pekerja asing”
Hari ini jumat, 8 Februari 2008 saya berencana ke Kuala Lumpur untuk sholat jumat di Masjid Jamek. Bukannya saya tak mau sholat jumat dekat rumah tapi kebetulan masih dalam suasana cuti tahun bari Cina, saya pun ingin sekalian jalan-jalan makan angin melihat keramaian. Saya sudah bosan duduk di rumah yang sepi karena kawan2 serumah dan tetangga jiran sekeliling banyak yang balik kampung.
Saya memulakan perjalanan dari Kajang menuju ke Kuala Lumpur dengan menaiki bus Rapid KL. Rapid KL ini walaupun namanya rapid tapi lambat karena sering berhenti mengambil dan menurunkan penumpang. Walaupun demikian Rapid KL ini tetap sarana transportasi favorit saya karena murah, meriah dan… sejuk bangeet. Seperti biasanya bus itu sudah mulai penuh sesak di Kajang, sampai di Kota Raya Kuala Lumpur barulah bus itu kosong.
Sambil menunggu waktu sholat jumat saya berkeliling kawasan Kota Raya. Setiap jalan yang saya lalui nampak bergerombolan orang-orang dari berbagai bangsa. Dilihat dari penampilannya bukan warganegara Malaysia, tapi bukan juga turis pelancong. Lebih mirip orang kampung (… alias wong ndeso). Ternyata mereka itu semua kebanyakan pekerja asing dari Indonesia, Bangladesh, Vietnam, Myanmar dan lain-lain, yang terdiri daripada kuli bangunan pekerja kilang/pabrik, dan pembantu rumah. Saya merasa aneh, yang berhari raya kaum Cina, kenapa yang ramai di KL bukan orang Cina? (Ooo… mungkin orang Cina juga pulang kampung ke Cina, makanya kedai-kedai banyak yang tutup. Kalau nak cari tempat dimana ramai orang Cina, pergilah ke Cina…he…he…he…)
Kenapa terlalu banyak pekerja asing di Malaysia? Sampai-sampai seorang warga mengeluhkan keadaan ini dalam Utusan Malaysia hari ini, beliau merasa asing dan takut di negara sendiri karena terlalu ramai orang asing. Sebenarnya jawabannya mudah saja, karena Malaysia membutuhkan mereka. Tanpa mereka tidak akan ada projek "Cemerlang Gemilang Terbilang" seperti KLCC, KL Tower, KLIA dan lain-lain.
Kalau sekiranya rakyat Malaysia terlalu mempermasalahkan banyaknya pekerja asing, tanyakan sendiri kepada kerajaan anda. Apakah seluruh pekerja asing di Malaysia ini perlu dikembalikan ke negaranya masing-masing? Apa mau rakyat Malaysia kerja kasar sekiranya seluruh pekerja asing dipulangkan? Pekerja asing itu hanyalah manusia biasa yang memerlukan kehidupan yang baik dan layak serta hiburan, yang tidak mereka dapatkan di kampung halamannya. Kalaupun ada yang berbuat jenayah/ kriminal itu tidak mencerminkan sifat keseluruhan pekerja asing, hanya sebahagian kecil (inilah yang disebut sebagai nila setitik yang merusakkan susu sebelanga).
Jadi menurut hemat saya biarkanlah Kuala Lumpur menjadi ibukota pekerja asing pada hari-hari cuti. Hanya pada hari inilah mereka dapat bekumpul melepas kepenatan bersama kawan yang berasal dari dari kampung halaman mereka. Malaysia kan sudah punya ibukota baru di Putrajaya…he….he….he…
October 24th, 2009 at 7:05 am
suke ati kau je becakap…hbs org malaysia tak bercuti utk lepaskan penat? besyukurlah anda diberi keja dan tempat tinggal yg lebih baik dan tpt yg aman dunia..dan nasihat lah kwn senegara anda utk kurang kkan lah masalah bukan menimbulkan masalah..hidup dgn penuh rasa syukur..